Tampilkan postingan dengan label Guratan pelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guratan pelangi. Tampilkan semua postingan
Nike as kekee
Assalamu'alaykum
Hayhayhaaaaay, wellcome back guys. Wooooow, saya sangat rindu, sungguh..!! Rinduuuu banget blog ini
Well well well, we will talking about "Long weekend", Jarang banget kaaan libur dari kamis sampe minggu, hoaaaah pelepasan penat besar-besaran *ngeregangin otot, Right? dan saya sangat menyukai hal ini, enjoooy banget.
Beberapa hal yang sangat saya nikmati ada "QUALITY TIME FOR MY FAMILY" , Jarang banget kan bisa ngumpul bareng keluarga, komplit pula. Agendanya buanyak banget dari nonton tv bareng, diskusi tentang lady gaga, sukhoi, cerita pengalaman kerja, nostalgia pulaaa. Ga kerasa deh udah larut malem, huaaah, gamau berakhir. Rasanya males banget ke rutinitas semula. #Aduh Nikeeee, gaboleh males gitu ah hehehe


And what about you guys?


Kesibukan saya selanjutnya adalah membuat novel novel dan novel, kerja kerja dan kerja, ngumpuliiiin duit yang buanyak hehehe. Inget target 5 taun kedepan, MUST REALIZE IT..!!


Jadi kebayang-bayang ibroh setelah membaca buku 5 cm (nebeng baca, ga beli wkakak), nah itu baru NOVEL BAGUS. Penuh makna, ga garing, ga ringan (yaeyalaaah, tebel gitu hehehe), ga cuma cinta2an mulu yang gampang banget bikin galau :p

Ah, jadi pengen sedikit mellow nih, kangen buat mendramatisir kebahagiaan hehehe.. Buat puisi ah, teruntuk mama papaku disini

Langkah Si Kecil ini

Jalan yang panjang
Belok Kanan
Belok Kiri
Tak menentu

Aku?
aku tetap pada kepribadianku
terus merangkai asa
terus mengerjap mimpi

Tak boleh berhenti
karena berhenti adalah kalah, ma
yang aku tahu hanya melewati jalan panjang ini
entah berjalan atau berlari kecil
tapi sayang, aku tak mampu untuk berlari, pa
karena berlari bagiku adalah suatu kecorobohan
Jelas akan kulakukan ini
terus terus terus hingga cahaya menjemputku

Mama, Papa
Kujemput kau dalam bahagia
Ilalang sepi, deru menepi
angin telah kurobek, hingga tak tersisa untuk menampar kulit lelah kalian
Flamingo mengayun lembut dalam gemerigi sepi
menuangkan kerinduan dalam kanvas kemahsyuran hidupku
Yaaa, hidupku
hidup langkah si kecil ini

Kini, dipenghujung kecilku kurangkai sebuah kalimat
yang mungkin tak terlalu indah dibaca
Tapi...
tangan ini menyalurkan ekspresi hati
hati yang kuharap tak akan mati
violet lorong ini, menjadi saksi
saksi bahwa langkah si kecil ini tertumpu pada mimpi yang terpasang didinding masa


Nike as kekee
Aleya menghela nafas lega. Terima kasih ya Allah.
Sebelum siswa kelas XI itu sempat keluar, Nadya-sang ketua kelas-maju ke depan dan memukul-mukulkan penggaris ke meja.
“Teman-teman, aku minta waktu sebentar!”Katanya tegas. Seisi kelas langsung membeku mendengarkannya.
“Sebentar lagi akan diadakan perayaan ulang tahun sekolah kita” Ujar cewek itu. “Setiap kelas diminta menampilkan suatu pertunjukkan dan wajib mengikuti bazaar. Nggak ada ketentuan akan apa yang harus ditampilkan dan dijual, semua terserah kelas masing-masing. Jadi, ada yang punya usul usul tentang apa yang akan ditampilkan?”
Tidak ada satu pun yang menjawab
“Baik” Kata Nadya lagi. “Kalau nggak ada, aku sudah membuat kuisioner untuk diisi. Tolong isi dengan benar karena kalian jugalah yang akan melaksanakannya. Tapi, sebelumnya, kita harus terlebih dahulu memilih coordinator pelaksana. Aku minta yang bersedia menjadi coordinator mengacungkan tangan. Jangan menunjuk orang lain!”
Seisi kelas terdiam. Tak ada yang berani mengajukan diri.
Nadya mendesah kesal,”Karena gak ada yang berani untuk sementara, aku menjadi koordinatr pelaksana. Selanjutnya ada yang keberatan?”Tanyanya menyapu seluruh ruangan. Semuanya serempak menggeleng dengan keras
“Baik” Nadya membagikan lembar kuisioner yang dibuatnya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan langsung kepadaku. Kuisioner ini dikumpulkan paling lambat pulang sekolah hari ini. Setelah selesai kurekap, baru kita diskusikan. Bagaimana konsepnya.

Karla mendelik saat Nadya keluar kelas. “Well.. dikelas kita ini, she is the man,” ujarnya
Aleya mengangguk setuju. Kemudian, matanya beralih pada Sarah, dan tanpa sengaja mendengar obrolan cewek itu dengan teman sebangkunya.
“Sorry, aku lupa makalah sejarah kita,” Kata Nita, teman sebangku Sarah dengan nada menyesal.
“Gak apa-apa ,” Jawab Sarah, dia kelihatan sungguh-sungguh. Aku udah bikin tugas itu koq.
“Atas nama kita berdua?” Tanya Nita tak percaya. Sarah mengangguk
“Aduuuuh, Sarah, kamu baik banget,” Pekik Nita sambil memeluk sarah yang tampak tersenyum.
“Eh, Buat tugas bahasa Inggris, kita satu kelompok , sama Lia juga kan?” Tanya Nita seteah melepas pelukannya.
“Iya”
“Kamu udah bikin?”
Sarah menggeleng. “Belum kufikir. Kita…..”
“Eh, tolong buatin ya, Sar, aku sibuk banget nih” Pinta Nita. “Kalau harus kerja bareng, kayaknya nggak bakal ada waktu yang pas. Tadi Lia juga bilang gitu, dia sibuk banget sama cheerleader-nya. Bisa nggakamu buatin buat kelompok kita? Ayolah Sar, kamu kan, yang paling pintar…”
Sarah Nampak bingung, “Ta.. Tapi…”
“Ayolah Sar…. Ya? Ya? Ya?” Desak Nita
“I-Iya deh,” Jawab Sarah akhirnya.
“Aduuuuuuh.. Makasiiiiiih..!!” Seru Nita. “Aku mau kasih tau Lia dulu.”
Masya Allah, kasian banget Sarah. Kata Leya dalam hati. Kemudian perhatiannya beralih pada suara yang tiba-tiba meninggi dari dua meja didepannya.
“Ayolah Nad”
Doni sedang membujuk Nadya untuk melakukan sesuatu, tetapi Nadya tidak menggubrisnya.
“Aku nggak mau,” Jawab Nadya dingin
“Kita ini satu kelompok!” Ujar Doni yang tampak kehilangan kesabaran. “Seharusnya, kita kerjakan tugas ini bareng-bareng!”
Nadya meletakkan buku yang sedang dibacanya, lalu mendongak menatap Doni tajam. “Aku nggak mau,” katanya. “Kalau kita mengerjakannya sama-sama, yang bakal terjadi: aku yang mengerjakannya dan kalian tinggal menyalinnya.”
Dari ekspresi wajahnya, kelihatan sekali kalau Doni tertohok. Namun, sepertinya memang itulah yang terjadi.
“Jadi sebaiknya, masing-masing kita mengerjakannya. Lalu, pada hari yang telah ditentukan, hasilnya dikumpulkan dan dikompilasi,” Tandas Nadya
Doni terdiam. Dahinya mengernyit, masih tidak setuju dengan usul Nadya.
“Kalau kamu nggak setuju dengan usulku. Terserah..!!” Ujar Nadya seakan-akan bisa membaca fikiran Doni. “Kita bisa mengumpulkannya secara individu. Kurasa, Bu Husnanggak akan keberatan, soalnya tugas ini dijadkan tugas kelompok Cuma biar beban kita ringan saja. Dan mengerjakannya seorang diri bukan masalah besar buatku.”
Doni kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa membalas, merasa kalah.
“Terserah kamu aja, aku kasih tau yang lain,” Katanya dengan lunglai
Mengerikan…. Batin Leya membayangkan harus menghabiskan satu tahun sekelas bersama orang seperti Nadya dan Sarah
“Leya, dipanggil ma Bu Ratna” Ucapan Rima membuyarkan fikiran yang berdecam dalam batinnya.
“Iya Rima, makasih. Anterin yuk” Pinta Leya
“Ok”
***
“Jadi gini Rima, redaksi sekolah kita kekurangan pengurus. Tadi Ibu baru saja menawarkan Rima untuk jadi pengelola vernitas-nama redaksi sekolah mereka-, tapi dia malah merekomendasikan kamu. Kata Rima, kamu menonjol di bidang sastra” Tutur Bu Ratna diiringi injakan kaki Leya ke Rima.
“Masya Allah Rimaaaa.. Kamu ngaco bgt sih, koq rekomendasiin aku?” Bisik Leya dengan suara seminim mungkin
“Biarin.. wuek”
“Nyebeliiiin”
***
“Ya Ampun Rima, gimana kalo redaksi kita jadi kacau balau cuma gara-gara Leya. Kamu kan lebih pintar, kenapa ga kamu aja?” Rengek Leya setelah menerima tawaran Bu Ratna.
“Leya, Rima percaya koq kalo Leya pasti bisa. Hehehe.. semangat ah kawaaaan” Tepuk Rima di pudak Leya.
“Semangat.. semangat.. semangat.. ^_^” Teriak Leya.
***
“Dimana Sarah?” Tanya Nadya saat anggota majalah berkumpul diruang redaksi. Sarah, Nadya, Rima dan Aleya adalah pengurus redaksi dan lebih spesifiknya pengurus majalah sekolah.
“Mana aku tahu, emangnya aku baby-sitternya?” Jawab Leya asal
“Seharusnya dia sudah disini buat rapat,” gerutu Nadya. “Payah! Dia kan ketuanya!”
“Sabar dan tunggu aja” Ujar Leya yang sedang sibuk di depan computer main zuma.
Walaupun masih tampak jengkel, Nadya menurut pada Aleya. Dia mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, lalu mulai membaca. Aleya seperi biasa, mengandalkan i-pod untuk menemaninya.
Majalah sekolah yang mereka kerjakan itu diberi nama Veritas oleh pendirinya, bahasa latin dari “kebenaran”. Seharusnya Veritas digawangi anak-anak kelas XII. Namun entah apa yang terjadi, sekarang tinggal Sarah--yang jelas-jelas duduk dikelas XI—yang masih tersisa. Karena itu, akhirnya, Bu Ratna mengajak paksa murid-muridnya untuk menjadi anggota tambahan.
Oleh Sarah, sang editor in chief, ketiga anggota baru tersebut diberi tanggung jawab sesuai dengan kapasitas kemampuannya masing-masing. Rima yang paling pintar bertanggung jawab atas artikel pengetahuan, baik umum maupun khusus. Nadya, si ketua kelas yang jaringan pertemanannya luas, bertanggung jawab tentang sekolah : events, serba-serbi sejarah dan lain-lain. Sementara Aleya, bertanggung jawab dalam hal sastra tentunya.
Aleya melirik jam tangannya. Pukul dua lewat, Sarah lama sekali.
“Aku mau cari Sarah,” Kata Aleya kemudian, sambil bangkit dari tempat duduknya. “Ini sudah pukul dua lewat”
Nadya dan Rima hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Lalu, kembali asyik dengan apa yang mereka lakukan.
Ternyata Sarah sedang berada di dalam kelas.
“Sarah..” Sapa Leya lembut.
Sarah mendongak
“Lagi ngapain?” Tanya Aleya. “Yang lain udah nunaggu buat rapat, Ayo Sar..”
“Ya Ampun!” pekik Sarah panic sambil memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tas. “Aku lupa, bagaimana dong?”
“Emang ngerjain apa Sar?” Tanya Aleya sambil duduk didepan mejanya.
“Tugas Kimia Ley..”
“Lho, emang yang lainnya pada kemana?”
“Mereka semua pada sibuk Ley . Entahlah.” Jawab Sarah kemudian mengenggam tangan Aleya. “Ayo Leya, kita ke ruang redaksi”
“Sarah, kamu ngerasa, engg.. engg.. maaf ya Sar. Kamu merasa dimanfaatkan ga ma mereka” Tapi tidak ada jawaban dari Sarah, hanya debaman langkah mereka di koridor kelas yang terdengar.
“Maaf Sarah, bukan maksudku….” Tapi Sarah segera memotong pembicaraan Aleya
“gak apa-apa koq Leya” Senyum Sarah yang sangat manis tersungging di wajahnya yang anggun
***
“Selesai” Kata Sarah nggak lama kemudiam sambil merapi-rapikan kertas di mejanya.
“Kalo gitu, aku tunggu di luar ya’” Kata Aleya ditemani Rima
“Eh Ley!” Cegah Sarah
“Hmm?”
Sarah tampak bingung seperti sedang menimbang-nimbang hendak mengatakan sesuatu.
“Aku ini..” Katanya tanpa berani menatap mata Aleya
“Kenapa Sar?”
“Aku ini bodoh ya?” Tanya Sarah sambil menunduk. “Aku tahu aku dimanfaatin, tapi aku ga bisa nolak.”
Aleya mendesah, lalu menatap dalam-dalam karpet ruang redaksi.
“Nggak” jawabnya. “Kamu nggak bodoh. Tapi terlalu baik”
Sarah menatapnya tak percaya, kemudian tersenyum.
***
“LEYAAAA…..” Teriak Karla memenuhi selasar Gedung Serba Guna. Jantung Aleya hampir loncat mendengar teriakan Karla.
“Astaghfirullah, berhenti untuk mengagetkan aku, Karlaaaa” Cubit Leya.
“Sakit dodol.. hahaha” Karla meringis
“Karla..!! tungguin” Rindu berlari mengejar Karla. “Capeknyaaaaaa”
Mereka bertiga baru saja selesai mengikuti pelajaran olahraga. bulir keringat menghiasi wajah mereka.
“Eh, kalian nyadar ga sih? Koq Nadya ga pernah ikut olahraga ya? Dia kan ketua kelas..!” Tanya Karla
“Dia punya dispensasi khusus kali” Ndu angkat bahu, “aku denger-denger sih, dia kena anemia. Lagian ayahnya kan orang kaya. Jadi mungkin di situ juga ‘pendorong’ dispensasinya”
“Hush.. berhenti ngomongin orang. Dosa. Hahaha” usil Aleya
Mereka terdiam sejenak, tapi kemudian Karla mengangguk. Mereka bisa memaklumi.

Nike as kekee
Huaaaaah.. Nike kangen buat nerusin cerbung yang judulnya guratan pelangi. Nike juga kangen sama karakter Aleya, Karla, Rindu dan Rima. Ckckck. Ayo kita terusin ceritanya

Bismillahirrahmanirrahim
Tak terasa, sungai kecil mengalir dari kedua mata leya. “Ya Rabbi, aku begitu rindu keluargaku. Beri mereka kebahagiaan yang sempurna disisiMu. Sesungguhnya, aku ini fakir” do’a leya dalam rundung kerinduan yang kini membuncah dalam dada. Wanita cantik itu menyusuri sudut ruang dan diambilnya buku berwana merah jambu yang dia simpan rapat dalam tumpukan buku beserta pena. Ditulislah sepenggal puisi yang mewakilkan seluruh perasaannya

KETIKA WANITA MENANGIS
Ketika wanita menangis..
Itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.
Ketika wanita menangis..
Itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya, melainkan karena pertahanannya sudah tidak mampu lagi membendung air mata.
Ketika wanita menangis..
Itu bukan berarti dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura.

Tetesan bening air matanya tumpah ruah membasahi puisi yang belum rampung dia tulis, dan membuatnya menjadi pudar. Sinar rembulan perlahan turun menyapa bumi. “Emak, abah, kakak.. kalian semua yang mengajarkan Leya untuk kuat dalam segala kondisi dan keadaan, tapi maaf, untuk saat ini Leya belum bisa menjadi yang kalian harapkan. Leya terlalu cengeng. Izinkan leya menangisi semua yang telah terjadi di hidup Leya. Malam ini saja. Leya disini sangat bahagia. Mama dan papa menyayangi leya sebagaimana mereka menyayangi anak kandungnya sendiri. Tak ada sedikitpun kata-kata yang menyakiti leya. Tapi mungkin alangkah lebih bahagianya jika kalian disini, melihat Leya tumbuh dan dewasa” Ucap leya ketika ketegaran berubah menjadi titik-titik kegetiran.
“Hush.. hush.. Astaghfirullah, harusnya Leya ga boleh ngeluh sedikitpun” Bisik leya dalam desiran angin yang mengaburkan desis ucapnya. Rapuh-OPICK mengalun bening dari HP-nya dan dengan suksesnya membuyarkan seluruh lamunan dan harapannya. “Masya Allah, jam setengah 10 malam, siapa yang SMS?” Gerutu Aleya.

From : Ka Wito
21:35:08
Assalamu’alaykum..
Maaf leya ganggu, gimana Proposalnya? Deadline-nya dimajuin 1 minggu, ternyata Bu Kepala Sekolah meminta rapat pertanggung jawabannya dipercepat, dikarenakan beliau ada acara 2minggu lagi. Jazakillah ukhty.. semangat ya

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil” Dzikir Aleya memekik memenuhi ruangan. “Gimana nih? Lho koq bisa lupa sih? Masya Allah. Dasar pelupa” Nafasnya memburu ditengah kegelisahannya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Dengan secepat kilat Leya membalas pesan ka Wito.

To : Ka Wito
Wa’alaykumussalam..
Iya kak, lusa Insya Allah selesai. Makasih ka infonya

Segera Leya menyalakan computer yang tersedia di sudut kamarnya. Ya, mama Aleya sangat baik, dia begitu memfasilitasi apapun kebutuhan Aleya. Tak lama, Ponsel Leya berdering kembali, tertampil 1 pesan yang baru saja hinggap.

From : Ka Wito
21:42:57
Belum tidur ley? Udah malem lho. Jaga kesehatan, jangan sampe kamu sakit, ntar proposalnya terbengkalai lagi.. hehe.. ^_^

“Idiiiiiih.. apa-apaan sih nih orang? Norak banget, sok perhatian” Ujar leya. Dengan segera, dia hapus pesan yang baru dia baca dan kembali meneruskan tugasnya di depan komputer. Satu jam berlalu, dia telah menyelesaikan tugasnya. “Hoahm.. it’s time to take a rest”

Sinar matahari mulai menembus jendela dan menerpa wajahnya yang kelelahan. “whoahm.. jam berapa ni? Ha? Jam 6? Are you kidding me? Astaghfirullah.. telaaaaat.. telaaaaat” Teriak Leya. Diiringi langkah seribu, dia menyeberangi ruangan menuju tempat wudhu dan melakukan ritual yang telah Allah perintahkan kepada umat manusia
“Aleya.. Aleya.. cepetan, papamu udah nunggu diluar” Teriak mama dari arah dapur.
“Iya mah, bentar lagi, 5 menit lagi. Bentar mah” Jawab Leya
“Tadi kamu telat ya sayang? Makanannya koq ga diabisin?” mama Leya mendekatinya dan tersenyum simpul melihat tingkah anaknya.
“Iya mah.. udah ah mah, berangkat dulu. Mmuach..” kecup leya sambil berlari ke arah teras
“Dasar” gumam mama Aleya

Sin2x+2sinx-1-cos2x
“Aleya Talita Sakhi, sampai kapan kamu mau berdiri disitu?” Tanya pak Anung tajam.
Aleya tidak menjawab. Kepalanya sudah pusing dan keringat dingin mulai becucuran. Perutnya mual, sepertinya tinggal menghitung mundur sampai dia benar-benar muntah didepan papan tulis.
“Sudah! Kembali ke tempat dudukmu,” gerutu Pak Anung tidak sabar. “Nadya, coba kamu yang jawab.”
Akhirnya…… Aleya menghela nafas lega. Dia memang payah kalau berurusan dengan angka.
“Bagaimana?” Tanya Ndu , begitu wanita ini menyandarkan diri ke kursi.
“So Bad..” jawab Aleya
“Bagus sekali Nadya, seperti biasanya,” Kata Pak Anung sambil bertepuk tangan.
“Subhanallah, Cuma 5 menit,” Decak Ndu kagum. “Bukan manusia.”
Aleya menatap Nadya yang sedang berjalan ke tempat duduknya. Dia balik menatap Aleya sekilas tanpa ekspresi, lalu mengalihkan tatapannya lagi. Aleya mengerutkan kening mencoba menerka apa yang difikiran wanita itu saat ini.
“Emang batas antara genius dan gila Cuma setipis kertas” Gumam Karla
Bagi Aleya, selama pelajaran matematika, entah kenapa waktu berjalan begitu lambat. Dua setengah jam terasa seperti dua abad. Akhirnya, bel penyelamat itu berbunyi juga

Nike as kekee
“Masya ALLAH, Karlaaa..!! Ngagetin aku aja. Hampir copot nih jantungku” mataku terbelalak saking shocknya.
“Haha.. Hiperbol dech Leya! Hosh..Hosh.. Hosh” Desahan nafas Karla menunjukkan bahwa dia telah mengambil langkah seribu.
“Hmmh, kenapa Kar? Hampir ditikam harimau ya? Atau abis dikejar anjing? haha” Tanyaku menyindir.
“Aduh Leya, Enggak liat apa kalo aku abis lari? Tadi hampir aja ga bisa masuk sekolah. Untungnya ada Guru yang mau masuk, jadi nyelip dech. Hahaha. Ga telat lagi kan? Yeeehh.." Teriaknya girang.
"Hmmh.. Lebih cepat lima menit dari bel masuk” Ucap Karla sambil memandang jam berwarna putih yang melingkar di tangan kirinya.
“Wah. Hebat. Ini sebuah prestasi untukmu Kar, harus dikasih piala. Hehehe. Yu ah masuk. Oh ya udah ngerjain PR belum?” Aku berlalu meninggalkan teras kelas sambil memegang tangan si Perempuan berjilbab panjang yang telah menjadi teman karibku sejak di SMP dulu.
“Udah dong, Bu Gina kan Killer, bisa mati kalo belum ngerjain” Dia taruh tasnya disamping kursi Rima. Rima dan Ndu menatap heran Karla. “Assalamu’alaykum. Hey kenapa kalian? Biasa aja dong ngeliatnya! Aneh ya ngeliat Karla ga telat?” Ujar Karla menyombongkan diri.
“Waduh, anomaly ni anak! Kesambet setan apaan Kar?” Tanya Ndu yang sedang tenggelam dalam kesibukan membuat PR express. “Ga tau nih, Semoga besok bisa terus kayak gini dech. Tau gak? Harusnya tadi aku nyampe disekolah jam setengah tujuh-an. Aku berangkat jam 6 kurang tapi lagi sial nich, tiba-tiba ban motor kempes. Akhirnya keliling-keliling dulu dech sambil nyari bengkel mana nenteng-nenteng motor lagi. Jam segitu kan bengkel belum ada yang buka. Huuh, mungkin ini ujian buat perubahan Karla ”.
“Hahaha.. Lebaaayyy..” Ucap kami bersamaan. Dan tawa menggelegak dari bibir-bibir manis kami. “Ssssttt… Bu Gina datang.. Bu Gina datang..” Ucap anak-anak riuh. “Mamaaaam! PR belum selesaiiii” Jerit Ndu.


Teng.. Teng.. Teng.. Bel berbunyi, menandakan ishoma (Istirahat, Sholat dan makan) telah datang. Setelah menyirami kalbu dengan sentuhan kasih saying Illahi, kami berempat menuju tempat yang konon menjadi pusat saat syndrome busung lapar (sejenak) alias kelaparan tingkat akut yaitu KANTIN!
“Eh, eneng santri. Mau mesen apa neng?” Sapa Ibu pemilik kantin kepada kami. Ya, begitulah Ibu Minah memanggil kami, mungkin karena jilbab kami berempat yang berukuran XL (menurut dia). Rima yang kelihatan sangat lapar langsung memesan 2 mangkuk soto Bandung beserta 2 piring nasi yang banyaknya Naudzubillah ditemani 2 Jus jeruk (Eit, jangan mikir yang enggak-enggak, Ini buat Rima dan aku) ^_^. Berbeda lagi dengan Karla, cukup berkata “Kayak biasa ya bu”, Bu Minah sudah mengerti apa yang hendak diinginkannya, yaitu Nasi goring ditemani telor mata sapi setengah matang dengan catatan kuning telurnya ga pecah tak ketinggalan Susu dingin.
"Ndu.. ga makan? Tawarku. "Enggak ley, ga nafsu" lengos Ndu kearah meja yang kosong. Bu Minah sudah sangat mahir dalam hal masak memasak. Bisa dibilang makanan yang terukir lewat tubuhnya yang gempal cukup membuat lidah kami bergoyang.
"Bu, ntar anterin kesana ya” Tunjuk Karla kesebuah meja yang sudah ditempati Ndu.

Mataku terfokuskan kearah Timur laut dimana Ndu berdiri. Kulihat sinar matanya meredup, tak cerah seperti biasanya. Sifatnya benar-benar berubah 180 derajat setelah kejadian tadi pagi. Bu Gina menyuruhnya untuk tidak mengikuti pelajaran yang dia sampaikan hari itu dan konsekuansinya, Ndu harus membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh orang tua Ndu. Ndu tidak bisa membayangkan betapa malu orangtuanya saat itu.
"Ndu.. jangan kayak gini. Aku kangen Ndu yang ceria" Tatap Rima penuh harap. Ndu hanya membalas dengan senyum tipis nan terpaksa.
"Ndu makan ya. Jangan banyak fikiran. Aku traktir dech.. hehe" Ndu menggeleng.
"Teman-teman.. maaf ya kalo Ndu bkin kalian pusing. Sebenernya gak ada masalah atas hukuman yang bu Gina kasih. Tapi yang bikin Ndu sakit hati, Bu Gina berani melemparkan kata-kata yang memang tidak sepatutnya diucapkan oleh orang yang beritelegensi tinggi. Orang tua Ndu aja ga pernah mengucapkan kata-kata yang seperti itu"
Kini air matanya genap membasahi pipinya yang tembam. Kuhapus dan kupeluk Sang sahabat dengan lembut.
"Yaudah, ntar kita pasti bakal ngebantuin Ndu buat minta maaf ma Bu Gina. Pokoknya Ndu sekarang tenang aja ya! Ehhhmmmm... Ndu pasti laper, makan ya?" Kulihat Ndu mengangguk lemah.

Dimalam ini, Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadaku. Kurasakan cahaya yang berpendar dihati makin lama makin luluh, jatuh dan tak berbekas. Nada flageolet yang biasanya bersiul untuk menghapus semua resahku, kini tak mengeluarkan intonasi nada sedikitpun. Percakapan tadi siang membuat rinduku membuncah melewati titik maksimum dan menyinggung sudut-sudut hati yang bertitik potong di semua kenanganku. Ndu sungguh sangat beruntung bisa merasakan kehadiran orangtua kandung dikehidupannya. Sedangkan aku? Aku adalah seorang anak panti asuhan yang diadopsi oleh keluarga yang bisa dikatakan golongan menengah keatas. Tapi dahulu, aku pernah merasakan memiliki keluarga yang utuh, saat itu kehidupanku sempurna walaupun berada dibawah garis kemiskinan.
Rekaman kusut yang telah terkubur usangnya waktu, kini mulai terurai dan dimainkan oleh fikiran dan kenangan yang tak akan penah kulupa sampai kapanpun.

“Ambilkan bulan, Bu....” Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. kadang aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.

“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar. “Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan?” tanyanya kemudian. “Iya kak.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diri diatas tikar tua. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.

“Dek, Adek kedinginan, ya?” tanya si perempua kecil berumur 12 tahun itu sambil mengusap keningku. Aku dengannya terpaut 4 tahun, kira-kira saat itu umurku baru menginjak 6tahun. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.

“Pakai sarung saja, ya Dek” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan abah sebelum meninggal.

“Kak....” Aku mendesis. “Emak dan abah sekarang di mana ya?” Tanyaku. Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.

“Emak dan abah sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu? Nah, bersama merekalah sekarang emak dan abah berada.” Lanjutnya. Aku terdiam. Bayangan emak dan abah satu persatu berkelebat di benakku. Terlintas siluet lelaki bertubuh kekar yang selalu terhiasi senyum yang mengembang, menggendongku dalam buaiannya, dan kurasakan bahwa perlindungannya sungguh dapat manghindarkanku dari segala macam marabahaya. Saat itu Kuambil sebuah foto yang telah usang. Kutatap wajah yang teduh, tak terasa air hangat mengalir dipipiku. Melihat itu semua, kakakku langsung menyembunyikan foto tersebut. Aku ingat, Tiga bulan yang lalu dari kejadian itu. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak dan abah meninggalkan kami berdua dalam kecelakaan. Kakakku bilang, walaupun emak dan abah tidur, tapi mereka tidak akan pernah bangun lagi.

Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain bersama teman sebaya.

“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya. “Huaaaahhhmmm....” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali. “Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.

Ia hanya tersenyum dan mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba..

“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah. “Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya. “Enggak” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.

Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.
Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras. “Aaaaaaah...anak gila!!” Teriaknya.

Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.
“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.

“Adek...adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang. “Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.

Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak dan abah waktu itu.

“Kak, Kakak!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil. Aku takut. Aku tidak mengerti itu semua. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis. Menangis hingga orang-orang mengerumuni aku dan kakakku yang telah terbujur kaku.
Nike as kekee
Kriiinggg… Kriiinggg… Kriiinggg… Kriiinggg…
Kudengar beberapa kali telefon rumahku yang bisa langsung terhubung ke saluran telekomunikasi di kamarku berbunyi. Hooaahh… dengan mata yang masih tertutup dan keadaan diri setengah sadar, kujauhkan lambungku dari tempat tidur yang nyaman dan bergegas ke sumber suara. “Assalamu’alaykum..” Kuucapkan salam dengan suara yang aku yakin tidak enak untuk didengar (Hmmh.. maklumlah baru bangun tidur) hehe.. ^_^.Tak ada jawaban, dan kuulangi salamku sekali lagi. tapi tetap tak ada jawaban dari seberang sana. “Ada yang bisa ane bantu?” Tawarku. Tiba-tiba tuut..tuut..tuut..tuut.. terdengar suara telefon diputuskan. “Waduh? Dimatiin? Dasar orang usil! Gini hari udah bikin mood orang jatuh ajah”. Kusimpan gagang telefon dengan rapih diatas meja kayu yang ukirannya terpahat dengan rapih, dan kulemparkan pandanganku kesebuah benda yang bertengger di dinding kamar berukuran 4x5 meter. “Ya Rabby.. Ternyata udah jam 2.39 . Waktunya bermunajat menghadapMu, Alhamdulillah ada yang ngebangunin, hehe.. gak sia-sia dech ada yang nelefon malam-malam, lumayan buat alarm sholat lail ” Bisikku dalam hati. Kulawan segala rasa kantuk dan dinginnya udara. Kuhilangkan segera tabir yang menyekat antara dunia mimpi dengan akhiratku. Kubuka jendela dan terlihatlah taman kecil nan asri yang terhampar membelah halaman, segera kutatap mawar merah segar yang masih diselimuti lapisan embun. Dilangit, Rembulan menggantung dengan berjuta pesonanya ditemani sang bintang yang berpendar seolah-olah menyampaikan bahwa ada beribu doa yang terpanjat di keheningan malam ini. Subhanallah walhamdulillah walaailaha illallah wallahu akbar. Sungguh, semuanya mampu menggetarkan hatiku yang penuh dengan bintik-bintik dosa yang telah menggumpal dan menghitamkan hatiku. Lambat laun perasaan kesal mulai memudar. Dan kubasuh anggota tubuhku dengan dinginnya air, gemericiknya sungguh menenangkan kalbu.
Aku sadar bahwa aku tak ingin melewati duapertiga malam dengan sia-sia, segera kukumpulkan mozaik-mozaik ketakwaan dan penghambaan untuk memuji keindahan DzatNya. Sketsa-sketsa ketakutan memenuhi relung hati, ya.. Aku takut akan segala dosa yang telah sukses aku buat dimasa-masa kejahiliahanku. Semoga cetakan sujud, simpuhan kaki dan terdengadahnya tangan dapat menjadi saksi-saksi dimana tak ada seorang pun yang dapat menolongku, kecuali Dia, Sang Maha Pemberi Ampunan.
Lantunan ayat suci memenuhi ruangan, aku yakin pada saat itu malaikat pun membenarkan apa yang Dia Firmankan dan mencatatnya sebagai amalan yang sholih. Setelah puas berkhalwat dengan Allah, kujatuhkan diri dalam buku-buku tebal yang akan aku pelajari disekolah hari ini. Seperti inilah aku melewati sisa-sisa malamku. Tak terasa gema Illahi telah memenuhi seantero jagat raya, menghangatkan malam yang dingin, membangunkan jiwa-jiwa yang haus akan kasihNya dan menyatukan para jundi-jundi rabbani dalam barisan shaf untuk mengagungkan NamaNya.
“Selamat pagi Aleya..!!” Sapa wanita berwajah tembam. “Eh Pagi juga Ndu!” jawabku sambil memberikan senyum terindah untuk sahabatku yang satu ini. “Cieh, cerah banget mukamu hari ini, Kawan! Haha..” Tepuknya dipundakku. “Hmmh.. boro-boro Ndu, tadi sekitar jam dua-an ada yang nelfon, gajelas banget. Ga ngomong pula, aku harap dia tak menjadi bisu gara-gara mendengar suaraku” Candaku. “Wooo… narsis banget ni anak” protesnya sambil mencubit pahaku. “Awww… apa-apaan sich nii? Baru aja masuk udah ngajak rusuh. Haha.. Aku jitak lho..!!” Ancamku. “Ampun al, ampun al! ^_^.. Janji dech ga bakal menganiaya kamu lagi, ntar aku dimarahin lagi sama penggemarmu Wkwkwk”. “APAAA?? Ich, jail banget sich kamu, mau gosipin aku ma dia? Huuh.. bukan level aku lah yao” Ujarku sambil mencubit pipinya. Hmmh.. begitulah Ndu yang memiliki nama lengkap Kharizma Rindu Inayatullah. Dialah yang membuat hari-hariku lebih berwarna. Celotehnya bikin perut sakit akibat keseringan ketawa. Dan kejailannya udah tingkat akut, jadi sangat sulit untuk disembuhkan.
“Eeeehh.. Cubit-cubit pipi lagi, genit banget sich leya! Haha, aku tau kalo aku ngegemesin, tapi jangan jadi penggemar yang fanatic gitu dech” Ujar Ndu. “Idiiiihhh… Hoeeekk.. males banget jadi penggemarmu, mendingan juga jadi penggemar kebo” Candaku. Kami tertawa berbarengan. Ya.. aku dan Ndu telah mencatat lembaran-lembaran persahabatan dalam sketsa strata terindah disekolah kita. dikelas 11 Ipa 2 lah tempat dimulainya cerita indah itu. Dan aku yakin, cerita kita lebih indah daripada nada flageolet, lebih menggetarkan daripada energy volta dan lebih cerah daripada sinar ultraviolet. Jika dapat kuungkapkan, kita bagaikan dawai yang terikat kedua ujungnya. Akan menghasilkan gelombang transversal yang bersifat stasioner dan akan mencapai resonansi ketika pengertian kita berada dipuncak kemaksimuman, saat itulah timbul gelombang yang mampu menggetarkan udara-udara sekitar dan akan diteruskan ke ketelinga para penikmat kisah indah sebagai musik organa keindahan (Hmmh.. Buat Mrs. Vera, aku kutip ya kata-katanya. Hehe (^_^).
Sebenarnya aku telah mengenal Ndu sejak masuk SMA 01 Bogor, kami sering dilibatkan dalam berbagai Organisasi, seperti ekstrakulikuler, OSIS, kemanusiaan, dan keagamaan. Namun hubungan kami menjadi sangat dekat ketika memasuki tahun ajaran baru (Yaiyalah, orang satu kelas, satu bangku pula) hehe..
“Leya, gimana dong? PR-ku belum selesai semuanya. Kemaren malem ketiduran gara-gara kecapean abis ngubek Gramedia. Buku yang aku pengen belum ketemu”. “Gubrak. Prioritaskan hal yang lebih penting dulu dong Nondh. Makanya kalo ada PR jangan sekali-kali ditunda, suka kebawa males. Jangan dibiasain gitu ya! ” Nasehatku sambil menyerahkan buku matematika yang akan kita nikmati dipelajaran pertama hari ini. “Haha.. Iya dech nona perfeksionis. Biasanya juga kamu suka ngerjain PR disekolah sambil nyontek yang punyanya Rima” Sindir dia. “Eeeehhh.. biarin, itukan dulu. Sekarang udah berubah total koq! Kan mau jadi anak pinter. Gak bakal liat yang punya orang, suka ga ngerti” Ucapku sambil membella diri. “Ekhm.. Jadi ceritanya pengen nyaingin Sang Juara Umum disekolah kita nich? Ga bakal bisa dech nyaingin otaknya Rima!”. Rima yang kebetulan duduk dibelakangku sadar bahwa namanya sedang menjadi perbincangan hangat diantara kita, si wanita berkacamata tebal itu segera menimpuk kita berdua dengan buku yang beratnya melebihi 2 ton (Abisnya tebel banget sich.. hehe). “Heh? Ngapain ngomongin Rima? Pantesan daritadi kupingku panas, Eh ternyata kalian toh yang ngomongin.” Katanya sambil tertawa. “Wadaw, sakit tau Rim” ringis Ndu yang kepalanya benjol 3meter.
Baiklah, akan kuceritakan sedikit tentang kita, sebenarnya selain aku dan Ndu, ada Rima juga Karla yang membuat persahabatan kita lebih kompleks dan beraneka rasa (kayak nano-nano). Hihihi.. Ndu diantara aku, Rima dan Karla adalah anak yang paling manja, paling ga mau ditinggal sendirian. Dan kalau curhat, ehm jangan ditanya dech, pasti ngabisin waktu seabad. Tapi dia orangnya sangat supel, jadi banyak banget kakak kelas yang deket ma dia terus kalo diajak diskusi agama nyambung banget. Berbeda dengan Rima! Rima ga bisa jauh dari namanya buku, paling terkenal dikalangan para guru karena kejeniusannya. Setiap ada tugas atau apapun yang tidak kita mengerti, Rima-lah yang selalu membantu menerangkan sampe kita bener-bener faham. Entahlah, aku pun tak mengerti apa isi otaknya! Bisa kalian bayangkan, soal fisika yang seharusnya dikerjakan dalam waktu2 jam, dia dapat melesaikan hanya dalam waktu 1 jam saja. Pokoknya TOP banget dech. Ada satu personil yang belum aku ceritakan, dialah Karla! Sang pemecah rekor orang yang sering terlambat dikelas, kita terbiasa menjulukinya “Miss Late”. Paling ngebosenin kalo udah ada janji ma dia! Bisa ngaret 1 jam dari waktu yang telah disepakati. Pagi inipun ujung hidungnya belum absen didepan kita, kayaknya alamat si Miss Late bakal terlambat lagi nich! aku jitak kalo sampe telat lagi!
“Leya, ada yang nyariin tuch didepan kelas” Teriak Toni sang Presiden dikelas kesayangan 11 IPA 2 yang terkenal rusuh, bandel, urakan tapi berprestasi. “Siapa Ton?” Tanyaku. “Gak tau ley, temuin aja!”.
“Assalamu’alaykum”. “Wa’alaykumussalam. Ada apa ya kak?” tanyaku. “Ehm, ini Ley, ada rancangan Proposal buat kegiatan PROPAS (Program Peduli Anak Sekolah). Editin ya, ini baru abstraknya tapi udah hampir jadi kok, referensinya liat Proposal yang taun lalu aja. Oh ya, ntar sekalian mintain tanda tangan ketua OSIS, penanggung jawab DKM, bidang kesiswaan ma Kepala Sekolah. Deadline 2 minggu lagi, soalnya 3 minggu mendatang kita bakal ngadain rapat ma Kepala Sekolah dan Alumni. Oh ya, LPJ ada di Widha. Dana yang masuk cek lagi, terus tambahin 4 juta, itu sumbangan dari Alumni angkatan 48. Insya ALLAH, minggu depan bakal survey ke rumah ade-ade PROPAS. Siapin semuanya sebaik mungkin ya!” Pesan ka Wito, dia adalah ketua Organisasi yang biasa kita sebut PROPAS. Organisasi ini mempunyai program yang bergerak dibidang pendidikan, dimana anak-anak yang kurang mampu tapi mempunyai semangat bersekolah tinggi yang menjadi target utama. Dana yang kita dapatkan berasal dari sumbangan para donator, seperti siswa/siswi, guru, alumni, bahkan orang tua murid. Dan Alhamdulillah, aku dipercayakan untuk menjadi pengurus PROGRAM ini. Lumayan melelahkan, tapi semuanya terbayar dengan senyuman tulus dari orang tua dan anak asuh PROPAS. “Insya ALLAH kak, kalo ga ada halangan, Proposalnya bakal jadi seminggu lagi komplit dengan tanda tangannya.”. “Ok. Ditunggu ya ley. Syukron. Assalamu’alaykum..” Pria itu berlalu dengan tangan merapat sambil mendekatkan kedada sebelumnya. “Wa’alaykumussalam warahmatullah”.
Saat akan kulangkahkan kakiku menuju kelas kembali, tiba-tiba “Dorrr… “.