Nike as kekee
Untuk seseorang yang kusanjung dengan sebutan papa.. Kutuliskan dengan ikhlasnya pengabdianmu untuk keluarga, termasuk aku.. Sungguh, hingga detik ini, Aku benar-benar bangga menjadi investasi akhirmu.. Lihat Allah..!! sayangilah beliau.. karena beliau telah mendidikku dengan caraMu.. Kumpulkanlah kami dalam JannahMu
Nike Andini..

Itulah nama yang mereka sandangkan untuk bayi mungil ke-2 mereka. Semasa kecil, aku pernah bertanya, kenapa namaku tidak ada unsur nama islamnya? Tidak seperti kakakku Gilang Ramdhani atau adik-adikku Syifa Fauzia dan Hanna Hanifa. Mama menjawab “Kenapa Nike? karena mama suka sama Nike Ardilla. Dan Andini dikasih dari papa artinya pendekar perempuan yang gagah berani, seperti cerita dongeng Wiro Sableng”. Gadis kecil itu hanya merengut, dibalik kekesalannya dia hanya mendumel dalam hati. Kenapa harus Wiro Sableng? Ckckck.. Tapi, sepertinya mama bisa membaca fikiranku, beliau menyambung perkataannya. “Harusnya teteh seneng dinamain ma Papa, soalnya Cuma nama teteh yang dibuatin ma Papa”

Wow, ternyata gara-gara Papa. Tapi Nike bangga lho.. Jujur aja..!! ^_^

Papa pengen anak perempuan pertamanya bisa diandelin layaknya pendekar. Hmmh, kalo ikutin kemauan aku sih, aku ga mau disebut pendekar, pengennya Mujahidah (Aamiin ya Rabb)

Siang ini, pekerjaan di kantor sedang lumayan “ringan”. Sebagai anak PKL, harus gesit mengerjakan tugasnya. Alhamdulillah, sebelum jam istirahat, pekerjaan hari ini sudah selesai. Well, dibelakang meja kerja, fikiran Nike sibuk beradu dengan memori-memori masa lalu. Dan pria itu lebih mendominasi untuk menduduki sebagian dari anganku. Dialah Papa.

Mungkin, tak cukup banyak tulisan yang terurai, karena semuanya tak sebanding dengan kebahagian yang telah aku lewati bersamanya. Masa kecil yang...... sugguh bahagia. Papa yang cukup sibuk dengan pekerjaannya, tapi tak pernah beliau mengorbankan waktunya untuk melewati waktu tumbuh anak-anaknya. Hebatnya beliau.

Sudah banyak yang berubah dari beliau. Rambutnya yang dulu hitam, kini nampak memutih. Tubuhnya yang dulu kekar dan sehat, kini nampak sedikit layu. Sepertinya waktu telah merenggut kejayaannya dulu. Namun, kejayaan di mata anak-anaknya akan tetap bersinar. Karena dibalik kesuksesan anak-anaknya, beliaulah faktor utama.. ^_^

Kusematkan fokusku pada satu foto yang pernah kuliat di album kecilku. Nampak Nike kecil yang sedang digendong oleh lelaki gagah. Kebahagiaan terpancar dari matanya. Dia begitu bahagia memilikiku. Subhanallah

Dia membawaku untuk membuka milyaran sel otak, dimana kenangan kita pernah tercipta..


Diaaa..
Dia yang mengorbankan bahu juga kakinya untuk kunaiki.. Aku bersorak-sorak sambil menjerit takut.. Dia meyakinkan, bahwa aku tak akan jatuh..

Dia mengajariku bermain sepeda. “Pah, jangan dilepasin ya” aku memohon. “Iya, cepet kayuh” jawab papaku. Ternyata papa melepaskan pegangannya, alhasil akupun jatuh. Dia yang mengendong dan menyemangatiku untuk terus belajar, hingga aku bisa.

Dia yang memelukku erat waktuku nangis tersedu-sedu saat menerima rapot dengan peringkat yang menurun.

Dia pernah mengompres keningku ketika panas menjalar ditubuh kecilku dulu, tentunya ditemani mama. ^_^

Dia yang menggenggam dan mengajakku jalan keliling kompleks setelah sahur di bulan Ramadhan sewaktuku kecil.

Dia yang pernah mengajakku memancing.

Dia yang bangga menceritakan cita-citaku pada keluarganya untuk menjadi dokter.

Dia yang mengajariku berenang dan badminton, hingga mama pernah marah karena melihat kulit gadisnya menjadi hitam. Kejadian itu, tentunya sebelum aku menstruasi..

Dia yang mengajariku mengendarai motor dan mobil, tentunya dengan alasan agar aku tidak terlalu bergantung pada orang yang mengantarku. Motor rusak karena aku terjatuh. Beliau dengan santainya menjawab “Ga apa-apa, yang penting teteh ma orang lain selamet”. Begitu pula dengan goresan di mobil karena aku salah memarkir.. Huuh.. Papa

Dia yang terus-terusan menghubungiku ketika aku lama terlalu lama diluar rumah.

Dia yang pernah memarahiku ketika pulang lebih dari jam 8 malam.

Dia yang menentangku bermain di waktu malam.

Dia yang membuatku nyaman dalam pelukannya, sewaktu aku kecil.

Dia yang.. Dia yang.. Dia yang.. masih banyak lagi yang tidak bisa kuungkapkan disini.

Sekarang aku mulai mengerti dan sangat faham dengan apa yang beliau ajarkan. Mengapa beliau dulu begini, atau begitu. Tapi satu jawaban yang sangat sempurna untuknya, karena beliau menginginkan segala sesuatunya terbaik untukku, untuk kami, anak-anaknya..

Berbicara tentang papa (Sosok sempurna dimataku), ada segenggam kesedihan, kerinduan dan kedamaian didalamnya.

Terkadang, aku menyesal, mengapa terlalu cepat meninggalkan rumah.
Selepas SMP, hatiku mantap untuk menjejaki SMA diluar kota. Sebelumnya papa begitu menentang. Tapi akhirnya dengan ikhlas dia merubah keputusannya karena melihat keinginanku begitu besar. Tapi kini aku sadar, bahwa apa yang dia inginkan hanyalah bersamaku hingga aku cukup umur untuk meninggalkan rumah. Yang dia inginkan hanyalah enggan kehilangan momen pertumbuhanku hingga aku dewasa. Rasanya ingin menangis mendengar perkataan teman bahwa anak yang sudah keluar rumah, akan sulit untuk kembali kerumahnya. Memang itu kenyataannya. Bekerja di kota kediaman orangtuaku sebagai analis kimia, sangat tidak menjanjikan. Pasti selepas wisuda nanti, aku akan bekerja diluar kota (lagi).

Pertengahan SMA. papa bercerita bahwa beliau akan pensiun dini dengan alasan sudah terlalu lelah untuk bekerja dengan penyakit asmanya yang kian menjadi-jadi. Mengapa papa yang dulu sehat bugar dan tak pernah absen dari klub badmintonnya kini kian melemah dan terlalu bergantung pada obat inheler? Disaat penyakitnya kambuh, nafasnya kian sulit. Pernah aku berfikir, Apa karena papa terlalu lelah mengurusi kami? Ataukah papa terlalu banyak fikiran karena memikirkan kami? Ya Allah, segera cabut penyakitnya. Buatlah apa yang beliau rasakan sebagai penggugur dosanya. Maaf pah, aku tidak bisa mewujudkan cita-citaku sebagai dokter. Tapi cukuplah aku sebagai dokter untukmu.



Aku antara iya dan tidak menyetujui rencananya untuk pensiun dini. Tapi semuanya aku kembalikan pada Allah yang Maha Mengatur Rezeki. Semua yang papa pilih, pasti terbaik. Syukur kupanjatkan, bisnis mama dan papa melesat naik. Subhanallah.

Papa, begitu panjang dan lelah perjalananmu. Kami, anak-anakmu akan berusaha menjadi sumber kebahagiaan di hari menjelang senja itu. Pernah kutatap wajahnya kala tertidur. Aku takuuuuut, begitu takut untuk kehilangan sosoknya. Tak bisa kuungkapkan bagaimana ketakutanku, hingga air mata yang bisa menjadi saksi atas semua itu. Wajah tenangnya yang dulu hingga kini selalu membahagiakanku.

Tak henti-hentinya hati ini berdo’a, walaupun aku tidak disisi kedua orgtuaku sekarang, Allah Subhana Wa Ta’ala akan senantiasa melindungi mereka.

Pernah beliau katakan keinginannya untuk pergi Umroh sekeluarga. Semoga Allah mengabulkannya.

Ya Allah.. Bahagiakan kedua orangtuaku.. Jelas, Nike akan berusaha membahagiakannya.

Aku berusaha sebaik mungkin untuk mencari sosok yang akan mengambil alih tanggung jawab papa atas diriku kelak. Dia suamiku pah. Jangan takut pah, walaupun dia penggantimu, kedudukan kalian tetap teramat istimewa dimataku. Semoga suamiku kelak, mempunyai sifat yang begitu penyayang, seperti Papa.

Kutulis tentangmu, dengan cinta yang tidak akan pernah putus, dengan air mata bahagia yang terurai. Terimakasih Allah, karena Engkau telah menitipkanku pada dua sosok yang terbaik, menurutku.

We Love You, Papa
With Love,

Nike Andini
About edit post
Reaksi: 
4 Responses
  1. hahaha.. Nike Ardilla Andini sang pendekar..
    Papa terkadang keras dan tampak "jahat" dengan aturan2nya, tp sebenarnya itu adalah wujud ketakutannya akan sesuatu yang dapat membahayakan anak2nya.. Semoga "Papa" diberikan kesehatan dan bisa menikmati keberhasilannya melalui kesuksesan anak2nya.. Aamiin..
    ada juga ceritaku tentang papa di http://andro-bhaskara.blogspot.com/2011/06/menjemput-fajar.html.. Salam Kenal Nike Ardilla.. :D


  2. Huah.. Huahhhhh.. jangan panggil Nike Ardilla.. wkwkwk..

    Aamiin.. Aamiin.. ^_^
    Hiks hiks hiks.. makasih ka andro chan


  3. ada kesamaannnya ne..
    saya di ajrin mancing sama papa, baikin speda, baikin lampu. jdi kalau bola lampu putus, saya langsung turun tangan.hehhe


  4. makasih @YouRga The X_PloReR (Jangan2 kembarannya dora lagi ya?) hhehehe

    Orangtua memberikan kesan yang teramat dalam yaa.. subhanallah


Posting Komentar

Komentarin postingan Nike yuuu..
Sebaik-baiknya orang, yang komentarin blognya nike *sesat.com